Saat ini semua produsen meyakini pentingnya
memenuhi kepuasan pelanggan pada segala aspek produk (barang dan atau jasa)
yang dijual ke pasar. Para petinggi/manajemen puncak perusahaan juga umumya
semakin menyadari dan memercayai adanya hubungan langsung antara customer
satisfaction (kepuasan pelanggan) terhadap peningkatan raihan pangsa pasar
(market share). Kepuasan pelanggan sangat penting dan menentukan.
Salah satu tolok ukurnya adalah kualitas. Namun
yang menjadi pertanyaan besar adalah “kualitas” seperti apa yang sesunguhnya
diinginkan oleh konsumen?. Menyangkut apa saja dan apa parameternya?. Bukankah
produk dengan reliability dan performa tinggi sudah cukup memuaskan customer?.
Banyak lembaga konsultan ternama di Amerika
Serikat memublikasikan hasil penelitiaanya dengan “sinyal” yang sangat jelas
bahwa customer satisfaction dengan indeks kepuasan “tinggi” mengalami
peningkatan pertumbuhan penjualan dalam periode tertentu. Sebaliknya produk
dengan level indeks kepuasan rendah, pertumbuhan penjualannya cenderung
“minus”. Tren volume penjualan yang terus menurun adalah awal kehancuran menuju
kebangkrutan.
Temuan ini tentu sangat mengagetkan dan menjadi
tantangan besar khusunya para jajaran manajemen puncak. Merancang dan
mengembangkan produk dengan fokus pada keinginan dan kepuasan
pelanggan/konsumen nampaknya sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Prof. David Garvin memberikan pemikiran gemilang
mengenai mutu suatu produk dengan ringkas dan mudah dipahami. Ketika para tokoh
manajemen kualitas “berbeda” pemahaman dalam mendefinisikan “kualitas” itu
sendiri, ilmuwan yang banyak mempelajari bidang bisnis dan manajemen proses ini
memublikasikan gagasannya cerdasnya mengenai “definisi kualitas” yang tergolong
sempurna.
Ya, alangkah puasnya konsumen membeli atau
memakai suatu produk dengan jaminan kualitas dan layanan purnajual yang bagus.
Penulis buku Managing Quality: The Strategic and Competitive Edge ini
memberikan dimensi yang luas dan menjadi tantangan besar bagi praktisi
pengembangan produk. Produk yang berkualitas tidak lagi cukup dengan hanya
memiliki performa, reliability, durability serta fitur yang bagus.
Masih ada “celah” yang memungkinkan konsumen kecewa apabila hanya unsur-unsur
klasik di atas yang terpenuhi.
Garvin banyak melakukan riset di bidang manajemen
umum dan strategi perubahan ini meraih Ph.D dari universitas ternama di AS,
Massachusetts Institute of Technology (MIT) tahun 1979. Delapan Dimensi Kualitas Garvin
memberikan pelajaran dan gagasan berharga bagi para produsen khususnya bagian
pengembangan produk dengan cakupan yang lengkap dan luas.
Produk yang diinginkan konsumen dan memenuhi
kualitas yang mereka harapkan adalah ketika semua unsur pengembangan produk
diterapkan secara maksimal. Tim inti product development (bagian marketing/pemasaran,
desain dan teknik) harus duduk bersama dan memikirkan semua aspek kualitas
produk yang hendak dikembangkan.
Delapan dimensi kualitas dari David Garvin
adalah:1. Performance (performa): menyangkut karakteristik operasi dasar.
2. Durability (ketahanan): jangka waktu hidup sebelum tiba saatnya diganti.
3. Serviceability: kemudahan servis atau perbaikan ketika dibutuhkan.
4. Aesthetics (estetik): menyangkut tampilan, rasa, bunyi, bau, atau rasa.
5. Perceived Quality: mutu/kualitas yang diterima dan dirasa customer.
6. Conformance: kesesuaian kinerja dan mutu produk dengan standar.
7. Reliability (keandalan): kemungkinan produk untuk tidak berfungsi pada periode waktu tertentu.
8. Featutes (fitur): item-item ekstra yang ditambahkan pada fitur dasar.
Paparan Prof. Garvin di atas tergolong kompleks
dan cukup rumit untuk dapat memenuhi ke delapan dimensi kualitas tersebut dari
sisi produsen atau pabrikan. Betapa tidak, dibutuhkan sumber daya dan effort
besar serta terintegrasi di semua lini perusahaan untuk dapat memenuhinya.
Mulai dari perencanaan perancangan produk,
manufaktur, supplier, pemasaran, sampai layanan purna jual. Khusus bagi
industri pemula akan menghadapi masalah dan tantangan kompleks agar dapat
membuat produk yang ”berkualitas”. Namun banyak perusahaan besar dan sukses
menyakini bahwa menawarkan produk dengan memenuhi Delapan
Dimensi Kualitas Garvin memberikan dampak besar bagi peningkatan
profitabilitasnya.
Logika sederhananya: produk berkualitas, konsumen
puas, produk akan laku, dan keuntungan meningkat.
Walaupun Prof. David Garvin bukan seorang tokoh
manajemen kualitas dunia seperti halnya Joseph M. Juran mendefinisikan kualitas
sebagai “ketepatan dan kesesuaian dalam pemakaian”, Philip Crosby sebagai
“kepuasan pelanggan”, Edward Deming, Kaoru Ishikawa, Taguchi dan nama besar
lainnya di bidang manajemen kualitas, namun nama David Garvin tidak bisa
diabaikan ketika membicarakan kualitas produk.
Delapan Dimensi
Kualitas hasil penelitiannya telah membuat pemahaman kualitas yang sesungguhnya
dan utuh dan menjadi tantangan besar yang positif dalam perkembangan perusahaan
khususnya tim pengembangan produk.
Selamat menerapkan Delapan Dimensi Kualitas David
Garvin!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar